Selimut Lukaku

Aku pernah sangat terluka dengan seseorang. Orang yang dahulu pernah kuanggap mampu melukiskan pelangi dihidupku, Justru mematahkan kuas lukisku. Memang tak terlihat mata, namun semua itu sangat berbekas. Dia bukan hanya mematahkan kuasku, dia mematahkan harapanku dan kebahagiaan yg sejak awal kulukis. Kini kusadar bahwa kedatangannya hanyalah membuatku menangis diatas kebahagianku. Seperti menusukku disaat tertidur. Tidak terlihat, tidak sakit, namun lukanya berbekas.

Aku takut melukis lagi, aku takut orang lain melakukan hal yg sama. Bahkan aku lebih takut lagi dengan org yg membuat lukisan untukku yg kemudian dia menginjak lukisan itu. Aku sangat takut dengan org yg bukan hanya menusukku disaat tertidur. Namun dia menikamku dari belakang hingga nafasku terhenti. Sangat terlihat, sangat terasa, dan lebih berbekas.

Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi tertarik dengan siapapun. Aku sengaja menutup rapat hatiku. Aku tak ingin menemukan pelukis hebat lagi. Aku tak ingin dilukiskan pelangi tak berwarna, karena pelangi itu indah. Tidak kelam, gelap dan tidak menakutkan. Aku ingin menemukan pelukis pemula, yang menghargai setiap helaian kuas. Yang menghargai makna dari sebuah keindahan warna. Dan yang mengerti bahwa lukisan adalah bentuk sebuah harapan yg ingin diwujudkan. Bukan untuk dihancurkan, dipatahkan atau bahkan dianggap buangan.

Aku menemukan sosok pelukis baru itu. Dia tak mampu membuat abstrak bernilai milyaran. Dia hanya mampu membuat pelangi beserta 7 warnanya. Sangat sederhana, sangat indah dan sangat menghangatkan. Seperti sosok selimut dikala hujan, dia mampu menghangatkan dan menyenyakkan. Kini aku mampu membuka hatiku lagi. Kini aku temukan seseorang yang menyelimuti lukaku. Luka itu memang masih berbekas, namun kehadirannya sebagai selimut mampu menutupi luka yg berbekas ini. Sekali lagi aku sangat merasa hangat dengan keberadaannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melawan Diriku

Tak sempat melupakan

Air mata langit