Air mata langit

Kala senja berubah jadi petang. Kala sinar rembulan menggantikan sang mentari, dan kala malam kembali lagi menjadi pagi. Semua itu mengajarkanku bagaimana istimewanya sebuah proses. Proses dimana bahagia dan terluka menjadi satu. Proses bagaimana tertawa dan kecewa menyelinap masuk ke otak, memenuhi ruang kosongnya.

Aku tak mampu memisahkan keduanya, kupikir dulu bahagia dan terluka  adalah dua hal yg tidak berhubungan. Kupikir dulu tertawa dan kecewa adalah dua hal yg bertolak belakang. Namun, kini keduanya menjelaskan hubungan sebab akibat. Sebab bahagia akan berakibat terluka, dan sebab tertawa akan berakibat kecewa. Ketika aku merasa bahagia, aku akan merasa terluka pula. Seperti halnya air mata, adakalanya seseorang menangis dengan alasan bahagia dan terluka.

Aku tak mampu mendeskripsikan makna dari kedua kata itu. Aku hanya bisa merasakannya. Ketika aku merasa bahagia aku berkataa "tuhan, aku mencintaimu". Dan ketika aku merasa sangat terluka, seketika aku menangis dan berkata "tuhan, seperti inikah?". Namun tuhan tak pernah mengeluh, DIA selalu mendatangkan hal yang sama ketika aku bahagia ataupun terluka. Ya, IA selalu menurunkan air mata langitNya.

Tetesan tetesan yg sangat menghangatkan, sengaja datang membasahi jendela untuk bertegur sapa. Tetesan yang membawa berita dariNya, berita yg entah susah untuk dijelaskan. Tapi yg kutau berita itu sebuah rahmat yg akan berarti baik jika aku mengira itu baik.

Dengan segala hal yang terjadi dalam hidupku ini, aku hanya paham 1 hal. Seseorang pasti pernah mengalami bahagia dan terluka, seperti yang aku tau bahwa bahagia akan menyebabkan terluka. Namun seiring berjalannya waktu, aku mempelajari satu hal lagi. Bahwa, petang akan berubah menjadi pagi lagi. Bahwa setelah hujan selalu ada pelangi, dan setiap daun yg gugur akan menumbuhkan daunnya kembali. Seperti layaknya terluka, aku akan mengalami kebahagiaan lagi setelah mengalami proses terluka. Kebahagiaan yg membuatku lebih tegar, aku bersyukur atas proses itu. Karena tanpanya aku takkan menjadi dewasa. Seperti air mata langit yang menjatuhi pepohonan agar pohon itu semakin tegar.

Komentar

  1. Begitulah air mata, pada akhirnya ia jatuh juga, terlebih ketika ada luka, namun dapat membuat lega yang merasa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melawan Diriku

Tak sempat melupakan