Postingan

Kepingan

-Hanya karena manusia punya sandaran, lantas mereka berbuat semaunya- --------------- Jika diibaratkan dalam hidup, manusia satu dan lainnya bagaikan kepingan yg menyatukan sebuah gambar. Meski tak utuh, mereka saling melengkapi. Ketika yg satu hilang, mereka tak lagi menjadi gambar yang indah. Sederhananya begitu, Manusia dasarnya memang diciptakan untuk membantu manusia lainnya, yg lebih membantu yg sedikit, yg bahagia membantu yg hampa. Namun semakin lama, aku sadar bahwa paragraf pertama yg aku tulis adalah sebuah kesalahan. Manusia bukan kepingan yg mudah disatukan untuk membuat gambar yg indah. Namun gambar yg indah itu hancur karena kepingan kepingan yg bernama "manusia". Tidak ada yg berbeda sebenarnya, manusia tetap diibaratkan seperti kepingan. Namun alasan dari terbentuknya manusia itu berbeda. Hanya perbedaan perspektif saja, ketika melihat 1 kepingan yg hilang, hanya bisa menebak antara "kepingan itu membentuk gambar yg indah" atau "gambar y...

Suatu hari nanti

"sebegitu kerasnya aku mencoba, jika kamu bukan ditakdirkan untukku, yang ada hanya sebuah doa agar aku tetap baik baik saja" -florensia ryana- _____________ Malam mulai semakin larut kala langit mulai terlihat lebih kelam. Playlist music tiba tiba berhenti saat dering telfon berbunyi, tersemat nama "biru" di layar itu.. Flo : Hallo Biru : eh gue lagi di Bandung nih, nongkrong yuk Terdengar suara orang lain yg samar samar "Sayang, nungguin siapa sih disini" Flo : lagi sama siapa? Biru : oh ini cewe baru gue Flo : orang Jakarta juga? Biru : iya, kan gue pernh bilang dulu alesan kita putus juga Karna gabisa LDR kan.. Flo : oh iya ya selamat :) Gmail notification from Labels corporation to Florensia Ryana "Congratulations to be our team as a junior manager, i hope u will get more experience and u will be placed in South Jakarta" Best regard, Human relationship Biru : eh jadi gimana? Bisa nongkrong bareng? Flo : sorry, besok gue har...

Melawan Diriku

"Nanti manusia juga pasti mengerti bahwa pertengkaran terhebat bukanlah dengan orang yg mereka sayang, tapi dengan diri mereka sendiri" ----- Hari-hari berlalu rasanya begitu penat, meski memulai awal pagi dengan fikiran yg positif, tapi selalu "ada" hal yg sering kali membuat otak ingin menyangkalnya. Sebenarnya hal yg dilalui-pun selalu sama; melakukan deretan aktifitas yg terkesan monoton tanpa tau alasan pasti mengapa berada dalam keadaan ini. Otak sering kali bertanya "bukankah kamu bahagia, Karna ini yg kamu mau?" tapi hati selalu saja menjawab "aku bahagia karena org lain bahagia melihatku seperti ini". Sama seperti yg lainnya, terkadang lebih peduli dengan orang lain itu baik tapi ingat diri sendiri juga butuh untuk diperhatikan. Sebenarnya, aku juga selalu ingin jadi terbaik untuk semua org. Mendengar apa yg mereka keluhkan, mengikuti apa yg mereka inginkan atau bahkan mungkin memberi apa yg mereka butuhkan. Sekuat aku bisa untuk membu...

Kamu Itu Duniaku

Untukmu, seseorang yg sering mengabaikan jutaan kalimatku -- April, 2019 Entah harus kumulai dari mana kalimat ini, sejauh rasa yg aku punya, jawabnya selalu sama : kamulah pemilik rasa itu. Entah mengapa rasa itu enggan bosan mampir, mengetuk pintu hati dan menggerogoti pikiran untuk memilih tempat yg paling nyaman. Rasa itu enggan untuk hilang, sudah sangat erat menempel seperti jemari yg saling menggenggam. Aku tidak bersedih, aku bahagia, karena hingga detik ini Tuhan masih setia menjaga rasaku untuk satu org, tak berlebihan. Bagiku, kamu sempurna, sebab Tuhan menciptakan manusia dengan bentuk yg paling sempurna. Terlepas bagaimana sikap dan sifatmu. Nyatanya dari sekian orang yg hadir, kaulah yg mampu menetap. Kau tau bagaimana kalutnya perasaanku? Saat aku menganggap kaulah satu-satunya, sedang kau mati Matian mencari org baru untuk menggantikanku?. Saat aku begitu mencemaskan segala hal tentangmu sedang kau asik berbahagia, memilih org lain yg mungkin hanya tertarik dengan ...

Tak lagi tentang kita

"sedalam apapun rasa yang pernah ada, pada akhirnya kita harus belajar kata Rela" ----- Pagi akan tetap menjadi pagi meskipun mendung telah datang. Malam akan tetap menjadi malam meski sinar rembulan begitu terang. Begitupun aku; masih tetap aku yg seperti dahulu meskipun kini tak lagi denganmu. Aku, ragaku, dan perasaanku masih tetap sama, yang berbeda hanya kau tak lagi ada. Kau sudah berlari menjauh saat kakiku mencoba melangkah mengejarmu. Kau sudah kepakkan sayap terlalu tinggi saat aku mencoba meraihmu. Dan kau perlahan melepas genggaman yg setengah mati telah aku jaga. Aku kehilangan sosokmu, seseorang yang dulu sempat aku anggap satu satunya, seseorang yg sering aku banggakan bahwa dia berbeda dari sebelumnya, dan sosok yg setiap hari aku semogakan menjadi yg terakhir, dia telah hilang. Dia telah pergi menemukan tempat baru yg mungkin lebih indah. Hari begitu berlalu, namun perasaanku enggan untuk berlalu. Segala upayaku menghilangkanmu dari hidupku tak pernah ada ...

Rela

" Dimulai dari rasa kagumku, rasa ternyamanku, dan sederhananya aku mencintaimu. Aku rela melepas semua yg setengah mati telah aku genggam. Aku berhenti mulai detik ini. " Hadirnya kamu selalu jadi rentetan cerita tanpa figur yang nyata. Aku menyapa dan mengenalmu hanya lewat tulisan tanpa makna. Sosokmu yang terlihat biasa, kini mulai menjadi hal yang aku semogakan. Maaf, barisan pesanku mungkin sering menjadi pengganggu tidurmu dimalam hari. Sempat terfikir bahwa aku takut untuk jatuh cinta lagi. Bukan karena kau tak menarik atau ada hal lain yg membuatku berpaling. Tapi justru kaulah alasannya, peran yg kau mainkan membuatku jatuh. Sifat dan sikap yang kau tunjukkan membuat dindingku rapuh. Dan kau berhasil datang, membuatku jatuh cinta, lalu melakukan hal yg sama kepada yg lain. Aku harus berhenti !! Aku harus berhenti untuk peduli, sebab rasa peduliku akan selalu bernilai seri dengan yg lainnya. Aku harus berhenti berfikir tentangmu, karena sejauh apapun aku berfikir...

Tak sempat melupakan

Waktu begitu berlalu setelah kau memilih untuk pergi, meninggalkan bekas luka, tanpa merasa bersalah. Bukankah kita memulai atas dasar cinta? Atau mungkin hanya aku saja yang merasa?. Mengapa begitu mudah mengakhiri padahal waktu itu kita teramat bahagia. Apa kau tak bahagia? Apa sudah ada seseorang yg mampu merebutmu dariku?. Jika memang seperti itu, baiklah, pergilah. Tujuanmu dia bukan aku. Tak perlu khawatirkan diriku, aku tak selemah yg kau fikirkan. Aku hanya perlu melupakanmu, membuang perasaanku, lalu pergi. Jangan hadir lagi, biarkan aku bahagia hanya dengan kenangan kita. Cerita yg pernah kita harapkan dahulu, berbagai impian telah kita tanam. Namun mungkin, kau memetiknya tak lagi denganku, dengan orang baru yg menggantikanku. Aku hanya bahagia, aku pernah menjadi seseorang yg begitu kau perjuangkan walau kini tak lagi sama. Perasaan seseorang memang bisa berubah, namun tidak dengan kenangan. Sungguh, aku memang mencintaimu. Tapi jatuh cinta yg sangat dalam adalah merelakan...