Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Selimut Lukaku

Aku pernah sangat terluka dengan seseorang. Orang yang dahulu pernah kuanggap mampu melukiskan pelangi dihidupku, Justru mematahkan kuas lukisku. Memang tak terlihat mata, namun semua itu sangat berbekas. Dia bukan hanya mematahkan kuasku, dia mematahkan harapanku dan kebahagiaan yg sejak awal kulukis. Kini kusadar bahwa kedatangannya hanyalah membuatku menangis diatas kebahagianku. Seperti menusukku disaat tertidur. Tidak terlihat, tidak sakit, namun lukanya berbekas. Aku takut melukis lagi, aku takut orang lain melakukan hal yg sama. Bahkan aku lebih takut lagi dengan org yg membuat lukisan untukku yg kemudian dia menginjak lukisan itu. Aku sangat takut dengan org yg bukan hanya menusukku disaat tertidur. Namun dia menikamku dari belakang hingga nafasku terhenti. Sangat terlihat, sangat terasa, dan lebih berbekas. Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi tertarik dengan siapapun. Aku sengaja menutup rapat hatiku. Aku tak ingin menemukan pelukis hebat lagi. Aku tak ingin dilukiskan p...

Menyapa masa lalu

Kamu masih tetap duniaku, walau status kita sudah berbeda. Aku masih menyimpan rasa itu sangat dalam. Aku memang sengaja menyimpannya agar suatu saat jika kau kembali, kau masih jadi bagian dari duniaku. Kamu masih tetap menjadi kamu, bagian dari masa laluku. Bagian dari kehidupanku sebelum aku mampu memaknai kehidupanku sekarang. Sebagai orang di masalalu aku tak berhak melarangmu dalam berbagai aspek. Duniamu adalah duniamu, aku tak mampu masuk ke duniamu dengan posisiku sekrang. Namun, cinta tak pernah memandang posisi. Aku memang bukan kekasihmu. Tapi aku mampu mencintaimu dengan atau tanpa kau balas. Alasan mengapa sampai saat ini aku belum melupakanmu, bukan aku ingin memilikimu. Aku hanya ingin tau rasanya berjuang untuk seseorang. Aku hanya ingin mengerti apa makna dari mencintai. Dan mencintaimu adalah jawaban dari semua pertanyaanku. Aku tak pernah peduli, rasa ini berbalas ataupun tidak. Yang aku tau, jatuh cinta kepadamu bukanlah sebuah dosa. Hai masa lalu, aku memang se...

KAMU, DUNIAKU

Mentari pagi kembali bersinar memberi kehangatan bagi setiap insan. Tetesan embun pagi turut menemani sejuknya udara ini. Secangkir teh hangat dan selembar roti yang menemaniku sendiri. Dan bayangmu yang selalu menemani pagiku dengan ucapan “selamat pagi duniaku’’. Aku selalu menunggumu kembali, dengan perasaan yang sewajarnya. Tanpa terlalu berharap dan  meminta, karena setiap harapan mungkin sirna. Seperti sekuat-kuatnya ranting, pada waktu tertentu ia akan patah juga. Tapi aku percaya, tuhan memang sengaja mematahkan hatiku agar aku berhenti berharap, dan selanjutnya tuhan akan datangkan harapan yang lebih baik lagi. Aku menunggu harapan baik itu muncul dalam duniaku. Hari berganti hari kulewati dengan mengikhlaskan kamu. Kamu terlalu banyak menggoreskan cerita dalam kehidupanku. Hadirnya kamu mengajarkan segalanya, mengajarkan bagaimana cara mencintai dengan sederhana. Mengajarkan bagaimana porsi rindu yang semestinya, dan mengajarkan bagaimana  aku dap...