Selimut Lukaku
Aku pernah sangat terluka dengan seseorang. Orang yang dahulu pernah kuanggap mampu melukiskan pelangi dihidupku, Justru mematahkan kuas lukisku. Memang tak terlihat mata, namun semua itu sangat berbekas. Dia bukan hanya mematahkan kuasku, dia mematahkan harapanku dan kebahagiaan yg sejak awal kulukis. Kini kusadar bahwa kedatangannya hanyalah membuatku menangis diatas kebahagianku. Seperti menusukku disaat tertidur. Tidak terlihat, tidak sakit, namun lukanya berbekas. Aku takut melukis lagi, aku takut orang lain melakukan hal yg sama. Bahkan aku lebih takut lagi dengan org yg membuat lukisan untukku yg kemudian dia menginjak lukisan itu. Aku sangat takut dengan org yg bukan hanya menusukku disaat tertidur. Namun dia menikamku dari belakang hingga nafasku terhenti. Sangat terlihat, sangat terasa, dan lebih berbekas. Sejak kejadian itu, aku tak pernah lagi tertarik dengan siapapun. Aku sengaja menutup rapat hatiku. Aku tak ingin menemukan pelukis hebat lagi. Aku tak ingin dilukiskan p...